marawanews.com - agama/mesjid-sungayang-termegah-di-sumbar menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Nagari Sungayang setelah Masjid Baiturrahman diresmikan sebagai masjid termegah di Sumatera Barat pasca rusak parah akibat gempa 2007. Masjid senilai lebih dari Rp4 miliar itu menjadi simbol bangkit dari puing, gotong royong, dan arsitektur yang meniru Masjid Nabawi di Madinah.
Dari puing gempa 2007 jadi kebanggaan baru Tanah Datar
Batusangkar, gempa 2007 menghantam banyak rumah ibadah di Tanah Datar. Masjid lama Sungayang termasuk yang rusak berat, tak layak pakai. Warga terpaksa salat di surau darurat selama bertahun-tahun. Dari reruntuhan itulah tekad baru muncul. Selama empat tahun penuh masyarakat berjuang, mengumpulkan dana, menyusun panitia, hingga akhirnya bangunan megah berdiri kokoh. Perjuangan panjang itu dicatat ketua panitia Drs. H. Masnefi, mantan Wakil Bupati Tanah Datar, sebagai bukti cinta nagari terhadap rumah ibadah.

Peresmian berlangsung Sabtu 3 September 2011, dihadiri ratusan warga dan perantau Sungayang yang pulang khusus. Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno menandatangani prasasti sebagai tanda resmi. Momen itu haru, karena bukan sekadar gunting pita, tapi penanda selesainya ikhtiar kolektif. Nilai bangunan yang mencapai miliaran rupiah murni hasil swadaya, bukan proyek APBD semata.
Arsitektur mirip Nabawi yang bikin takjub pengunjung
Yang membuat Masjid Baiturrahman berbeda, desainnya sengaja meniru Masjid Nabawi. Kubah besar, pilar-pilar kokoh, halaman luas dengan payung elektrik, ornamen kaligrafi keemasan. Di Sumbar yang kaya dengan gonjong dan ukiran Minang, kehadiran gaya Nabawi memberi warna baru. Gubernur menyebut masjid ini indah dan unik, pantas jadi daya tarik. Banyak pengunjung dari luar Tanah Datar datang bukan hanya salat, tapi juga berfoto dan belajar arsitektur.
Irwan Prayitno dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga melihat semangat warga. Ia mengatakan, seandainya setiap nagari di Sumatera Barat punya semangat dan partisipasi seperti masyarakat Nagari Sungayang, pembangunan di setiap nagari tidak hanya akan mengandalkan bantuan pemerintah. Kalimat itu menohok, karena menunjukkan kemandirian nagari bisa mengalahkan keterbatasan anggaran negara.
Pesan Bupati Shadiq: megah saja tak cukup
Bupati Tanah Datar saat itu, M. Shadiq Pasadigoe, mengingatkan hal yang lebih dalam. Di balik musibah gempa, ternyata masyarakat mampu membangun masjid yang sangat megah dan menjadi kebanggaan bagi Sungayang dan Tanah Datar. Tapi kemegahan fisik tidak akan ada artinya kalau masyarakat tidak bisa memakmurkan masjid untuk kepentingan ibadah dan pemberdayaan umat. Pesan itu relevan hingga kini, masjid megah harus hidup, bukan hanya jadi monumen foto.
Memakmurkan yang dimaksud bukan sekadar ramai salat lima waktu. Bupati mendorong masjid jadi pusat ekonomi umat, pendidikan Al Quran, dan musyawarah nagari. Di Sungayang, tradisi berkaum dan bersuku masih kuat, masjid bisa jadi simpul. Ketika masjid hidup 24 jam, remaja tidak hanya nongkrong di lapau, tapi punya ruang belajar agama dan keterampilan. Itu makna sejati dari istilah termegah, bukan hanya marmer mahal.
Gotong royong kampung dan rantau jadi kunci Rp4 miliar
Dana lebih dari Rp4 miliar pada 2011 bukan angka kecil. Untuk ukuran nagari, itu setara membangun puluhan rumah. Ketua panitia Masnefi menegaskan, masjid megah ini tidak akan terwujud kalau masyarakat Nagari Sungayang tidak saling bahu membahu, baik masyarakat yang di kampung maupun yang di perantauan, mengingat besarnya dana. Pola badoncek dan sumbangan perantau dari Jakarta, Pekanbaru, Batam, bahkan Malaysia mengalir tiap bulan.
Fenomena perantau Sungayang memang kuat. Hampir tiap keluarga punya anggota di rantau yang jadi pengusaha, dosen, birokrat. Ketika panitia menyebar proposal, sambutan luar biasa. Ada yang kirim semen, ada yang transfer 50 juta, ada yang sumbang karpet Turki. Semangat itu yang membuat Irwan Prayitno menyebut Sungayang contoh. Nagari lain bisa meniru, jangan tunggu bantuan turun, gerakkan dulu potensi internal nagari dan jaringan rantau.
Jadi ikon baru wisata religi Tanah Datar
Gubernur memprediksi masjid indah dan unik ini akan jadi daya tarik, bahkan ikon tersendiri bagi Sungayang bahkan Tanah Datar. Prediksi itu terbukti. Kini rute wisata Tanah Datar tidak hanya Istano Basa Pagaruyung dan Danau Singkarak, tapi juga Masjid Baiturrahman Sungayang. Bus rombongan pengajian mampir, konten kreator TikTok datang, UMKM sekitar tumbuh jual songket dan kuliner. Efek domino dari ikon religi ternyata menggerakkan ekonomi kecil.
Dampaknya juga ke harga tanah dan kebanggaan identitas. Anak muda Sungayang yang kuliah di Padang bangga menyebut masjid kampungnya termegah di Sumbar. Label termegah memang subjektif, tapi bagi warga, itu bukan soal adu besar, tapi soal standar baru pembangunan masjid nagari. Setelah Baiturrahman, beberapa nagari lain di Tanah Datar ikut merenovasi masjid dengan desain lebih modern dan dana swadaya lebih besar.
Pelajaran untuk pembangunan nagari di Sumbar
Kisah Masjid Baiturrahman memberi pelajaran manajemen pembangunan berbasis komunitas. Empat tahun bukan waktu sebentar, butuh konsistensi. Panitia diketuai tokoh berpengalaman, mantan Wabup, sehingga transparansi terjaga. Laporan keuangan ditempel di papan masjid, progres diumumkan tiap Jumat. Model transparansi dan akuntabilitas seperti ini yang membuat perantau percaya untuk terus menyumbang.
Ke depan, tantangan memakmurkan lebih berat daripada membangun. Masjid butuh imam tetap dengan honor layak, program TPQ, koperasi masjid, dan perawatan rutin marmer serta listrik payung besar. Gubernur pada 2011 juga sempat menyinggung perlunya honorarium imam masjid dari bupati dan wali kota. Jika masjid termegah tapi imamnya tidak sejahtera, jamaah bisa sepi. Regenerasi pengurus muda juga penting agar semangat gotong royong tidak putus di generasi perantau baru.
Ikuti terus kabar nagari, pembangunan masjid, dan cerita inspiratif gotong royong Minangkabau hanya di marawanews.com, portal berita Sumbar yang merekam jejak dari puing gempa hingga berdirinya ikon religi, dengan sudut pandang dekat warga dan semangat memakmurkan nagari.